MAKALAH TASAWUF MENURUT RISALAH QUSYAIRIYAH
TASAWUF MENURUT RISALAH
QUSYAIRIYAH
Makalah
Disusun
untuk Memenuhi Tugas
Mata
Kuliah: Ahlak Tasawuf
Dosen
Pengampu: Dr. H. Djasadi, M. Pd.
Disusun Oleh :
Ahmad Kharir (1401016092)
FAKULTAS DAKWAH DAN KOMUNIKASI
UNIVERSITAS ISLAM NEGERI
WALISONGO
SEMARANG
2015
I.
Pendahuluan
Seorang sufi yang sangat terkenal
dengan salah salah satu karya agungnya tentang tasawuf berjudul ar-Risâlah
al-Qusyairiyyah, yaitu al-Imâm Abu al-Qasim Abd al-Karim ibn
Hawazan al-Qusyairi (w 456 H). Dalam karyanya tersebut al-Qusyairi menuliskan
secara detail keyakinan para ulama sufi dan bahwa mereka adalah orang-orang
yang sangat kuat memegang teguh akidah Ahlussunnah. Di
antara yang beliau tulis dalam ar-Risâlah adalah sebagai berikut:
"وهذه فصول تشتمل على
بيان عقائدهم في مسائل التوحيد ذكرناها على وجه الترتيب. قال شيوخ هذه الطريقة على
ما يدل عليه متفرقات كلامهم ومجموعاتها ومصنفاتهم في التوحيد: إن الحق سبحانه
وتعالى موجود قديم لا يشبهه شىء من الفخلوقات، ليس بجسم ولا جوهر ولا عرض، ولا
صفاته أعراض، ولا يتصور في الأوهام، ولا يتقدر في العقول، ولا له جهة ولا مكان،
ولا يجري عليه وقت وزمان"
“Pasal-pasal ini mencakup penjelasan akidah kaum sufi dalam
masalah tauhid, dan kami akan sebutkan secara tertib. Para pemuka kaum sufi,
dengan berbagai tingkatan dan berbagai macam karya dalam masalah akidah yang
telah mereka tulis, mereka semua telah sepakat bahwa Allah Maha Ada, Qadim;
tanpa permulaan, tidak menyerupai apapun dari seluruh makhluk ini, bukan benda (al-Jism),
bukan al-Jawhar (benda terkecil yang tidak dapat terbagi-bagi),
bukan al-‘Aradl (sifat benda), segala sifat-sifat-Nya bukan
sifat-sifat benda, tidak dapat digambarkan dalam prakiraan-prakiraan, tidak
dapat dibayangkan oleh akal pikiran, ada tanpa tempat dan tanpa arah, serta
tidak terikat oleh waktu dan zaman” (ar-Risâlah al-Qusyairiyyah, h.
7).
Orang2 Wahabi akan berkata: "Mana dalil al-Qur'an
dan Haditsnya"?? Omongan orang yang tidak punya "modal", akibat
ga mau mengkaji karya para ulama. Anda katakan kepada orang tersebut:
"Siapa yang lebih paham terhadap al-Qur'an dan Hadits; Imam al-Qusyairi
atau ente? Ente kira Imam terkemuka sekelas Imam al-Qusyairi mengatakan
"ALLAH ADA TANPA TEMPAT" bukan dengan dasar al-Qur'an dan Hadits??".
Benar, orang2 Wahabi hanya akan menerima perkataan Ibn
Taimiyah, Ibn Qayyim, Ibn Ba's, Utsaimin, dan orang2 yang sepaham dengan
mereka. Inilah contoh cara beragama yang "se-enak perut".
Dalam permasalahan diatas sehingga
mengakibatkan berbagai permasalahan dalam memahami ilmu tasawuf, maka dalam
pembahasan kali ini mengenai tasawuf yang di kaji oleh Al Qusyairi dalam
bukunya Risalah Qusyairiyah.
II.
Rumusan Masalah
a.
Apa pengertian
Risalah Qusairiyah ...?
b.
Apa dasar
tauhid menurut kaum sufi...?
c.
Apa istilah
Tasawuf...?
d.
Apa maqam atau
jalan pendakian para salik...?
e.
Bagaiman
kondisi rohani dan karomah para wali..?
f.
Siapa saja
tokoh sufi dan apa mutiara hikmahnya,,,,?
III.
Pembahasan
1.
Pengertian
Risalah Qusairiyah
Secara terminologi, kata risalah berarti suatu pembahasan, tema bahasan
atau kajian. Keberadaannya mungkin sebagai jawaban suatu pertanyaan, pemecahan
suatu masalah, atau jalan keluar dialog kajian.
Risalah ini disusun oleh Qusyairi sengaja ditunjukkan kepada
kelompok masyarakat yang berkecimpung dalam dunia tasawuf secara taklid, suatu
kelompok yang mempraktekan ajaran tasawuf tanpa pengetahuan tentang hakikat
dasar Thariqah. Mereka yang mengamalkan ritual sufistik ditengah kekeliruan
sebagai kaum yang mendakwakan diri sebagai kelompok sufi atau didalam
kungkungan paham sufistik yang seolah memiliki dasar keagamaan, tpui sebenarnya
tidak memiliki landasan hukum ( Nash Al-Qur’an dan Hadits), akal serta argumen.
Nama lengkapnya adalah Abdul Karim al Qusyairi. Nasabnya, Abdul Karim
bin Hawazin bin Abdul Malik bin Thalhah bin Muhammad. Panggilannya Abul Qasim,
sedangkan gelarnya cukup banyak, antara lain yang bisa kita sebutkan:
An-Naisaburi
Dihubungkan
dengan Naisabur atau Syabur, sebuah kota di Khurasan, salah satu ibu kota
terbesar Negara Islam pada abad pertengahan disamping Balkh, Harrat dan Marw.
Kota di mana Umar Khayyam dan penyair sufi Fariduddin ‘Atthaar lahir. Dan kota
ini pernah mengalami kehancuran akibat perang dan bencana. Sementara di kota
inilah hidup Maha Guru asy Syeikh al Qusyairi hingga akhir hayatnya.
Al-Qusyairi.
Dalam
kitab al Ansaab’ disebutkan, al Qusyairy sebenarnya dihubungkan kepada Qusyair.
Sementara dalam Taajul Arus disebutkan, bahwa Qusyair adalah marga dari suku
Qahthaniyah yang menempati wilayah Hadhramaut. Sedangkan dalam Mu’jamu Qabailil
‘Arab disebutkan, Qusyair adalah Ibnu Ka’b bin Rabi’ah bin Amir bin Sha’sha’ah
bin Mu’awiyah bin Bakr bin Hawazin bin Manshur bin Ikrimah bin Qais bin Ailan.
Mereka mempunyai beberapa cucu cicit. Keluarga besar Qusyairy ini bersemangat
memasuki Islam, lantas mereka datang berbondong bondong ke Khurasan di zaman
Umayah. Mereka pun ikut berperang ketika membuka wilayah Syam dan Irak. Di
antara mata rantai keluarganya adalah para pemimpin di Khurasan dan Naisabur,
namun ada juga yang memasuki wilayah Andalusia pada saat penyerangan di sana.
Al-Istiwaiy
Mereka yang datang ke Khurasan dari Astawa berasal dari Arab. Sebuah negeri besar di wilayah Naisabur, memiliki desa yang begitu banyak. Batas batasnya berhimpitan dengan batas wilayah Nasa. Dan dari kota itu pula para Ulama pernah lahir.
Mereka yang datang ke Khurasan dari Astawa berasal dari Arab. Sebuah negeri besar di wilayah Naisabur, memiliki desa yang begitu banyak. Batas batasnya berhimpitan dengan batas wilayah Nasa. Dan dari kota itu pula para Ulama pernah lahir.
Asy-Syafi’y
Dihubungkan pada mazhab asy Syafi’y yang dilandaskan oleh Muhammad bin Idris bin Syafi’y (150 204 H./767 820 M.).
Beliau memiliki gelar gelar kehormatan, seperti: Al Imam, al Ustadz, asy Syeikh (Maha Guru), Zainul Islam, al jaa’mi bainas Syariah wal haqiqat (Pengintegrasi antara Syariat dan Hakikat), dan seterusnya.
Dihubungkan pada mazhab asy Syafi’y yang dilandaskan oleh Muhammad bin Idris bin Syafi’y (150 204 H./767 820 M.).
Beliau memiliki gelar gelar kehormatan, seperti: Al Imam, al Ustadz, asy Syeikh (Maha Guru), Zainul Islam, al jaa’mi bainas Syariah wal haqiqat (Pengintegrasi antara Syariat dan Hakikat), dan seterusnya.
Nama nama (gelar) ini diucapkan sebagai penghormatan atas kedudukannya
yang tinggi dalam bidang ilmu pengetahuan di dunia islam dan dunia tasawuf
Beliau mempunyai hubungan dari arah ibundanya pada as Sulamy. Sedangkan
pamannya, Abu Uqail as Sulamy, salah seorang pemuka wilayah Astawa. Sementara
nasab pada as Sulamy, terdapat beberapa pandangan. Pertama, as Sulamy adalah
nasab pada Sulaim, yaitu kabilah Arab yang sangat terkenal. Nasabnya, Sulaim
bin Manshur bin Ikrimah bin Khafdhah bin Qais bin Ailan bin Nashr. Kedua, as
Salamy yang dihubungan pada Bani Salamah. Mereka adalah salah satu keluarga
Anshar. Nisbat ini berbeda dengan kriterianya.
Ketika ditanya tentang kelahirannya, al Qusyairy mengatakan, bahwa ia
lahir di Astawa pada bulan Rablul Awal tahun 376 H. atau tahun 986 M. Syuja’ al
Hadzaly menandaskan, beliau wafat di Naisabur, pada pagi hari Ahad, tanggal 16
Rablul Akhir 465 H./l 073 M. Ketika itu usianya 87 tahun.
Ia dimakamkan di samping makam gurunya, Syeikh Abu Ali ad-Daqqaq ra, dan
tak seorang pun berani memasuki kamar pustaka pribadinya dalam waktu beberapa
tahun, sebagai penghormatan atas dirinya.
Tidak banyak diketahui mengenai masa kecil al-Qusyairy, kecuali hanya
sedikit sahaja.. Namun, yang jelas, beliau lahir sebagai yatim. Ayahnya telah
wafat ketika usianya masih kecil. Kemudian pendidikannya diserahkan padaAbul
Qasim al Yamany, salah seorang sahabat dekat keluarga al Qusyairy. Pada al
Yamany, ia belajar bahasa Arab dan Sastra.
Para penguasa negerinya sangat menekan beban pajak pada rakyatnya. Al
Qusyairy sangat terpanggil atas penderitaan rakyatnya ketika itu. Karenanya,
dirinya tertantang untuk pergi ke Naisabur, mempelajari ilmu hitung, agar bisa
menjadi pegawai penarik pajak, sehingga kelak bisa meringankan beban pajak yang
amat memberatkan rakyat.
Naisabur ketika itu merupakan ibu kota Khurasan. Seperti sebelumnya,
kota ini merupakan pusat para Ulama dan memberikan peluang besar berbagai
disiplin ilmu. Syeikh al Qusyairy sampal di Naisabur, dan di sanalah beliau
mengenal Syeikh Abu Ali al-Hasan bin Ali an Naisabury, yang populer dengan
panggilan ad-Daqqaq, seorang pemuka pada zamannya. Ketika mendengar ucapan
ucapan ad-Daqqaq, al-Qusyairy sangat mengaguminya. Ad-Daqqaq sendiri telah
berfirasat mengenai kecerdasan muridnya itu. Karena itu ad-Daqqaq mendorongnya
untuk menekuni ilmu pengetahuan.
Akhirnya, al Qusyairy merevisi keinginan semula, dan cita cita sebagai
pegawai pemerintahan hilang dari benaknya, memilih jalan Tharikat.
Disiplin Ilmu Keagamaan
ü Ushuluddin: Al Qusyairy belaj’ar bidang Ushuluddin menurut mazhab Imam
Abul Hasan al Asy’ary.
ü Fiqih: Al Qusyairy dikenal pula sebagai ahli fiqih mazhab Syafi’y.
ü Tasawuf: Beliau seorang Sufi yang benar benar jujur dalam
ketasawufannya, ikhlas dalam mempertahankan tasawuf Komitmennya terhadap
tasawuf begitu dalam. Beliau menulis buku Risalatul Qusyairiyah, sebagaimana
komitmennya terhadap kebenaran teologi Asy’ary yang dipahami sebagai konteks
spirit hakikat Islam. Dalam pleldoinya terhadap teologi Asy’ary, beliau menulis
buku: Syakayatu Ahlis Sunnah bi Hikayati maa Naalahum minal Mihnah.
Karena itu al Qusyairy juga dikenal sebagai teolog, seorang hafidz dan
ahli hadis, ahli bahasa dan sastra, seorang pengarang dan penyair, ahli dalam
bidang kaligrafi, penunggang kuda yang berani. Namun dunia tasawuf lebih
dominan dan lebih populer bagi kebesarannya.[1]
2.
Dasar-dasar
tauhid menurut kaum sufi
a.
Ma’rifatullah
Imam
Al-Junaidi berkata, “ sesungguhnya awal yang dibutuhkan oleh seorang hamba dari
suatu yang bersifat hikmah adalah mengetahui sang pencipta atas keterciptaan
dirinya”.
b.
Sifat-sifat
Allah
Tauhid
adalah pengetahuan anda bahwa badi Dzat Allah tidak ada keserupaan dan tidak
ada peniadaan bagi sifat-sifatnya yang dikemukakan oleh Abu Hasan Al-Busyanji,
serta menurut Imam Al-Junaidi,” tauhid merupakan pengetahuan dan pengakuan
bahwa Allah adalah Dzat yang tunggal dalam keabadian dan keterdahuluan-Nya, tak
ada pihak kedua yang menyertai-Nya. Apapun yang bergerak di alam tidak bekerja
dengan sendirinya”.
c.
Iman
Menurut Abu Abdullah bin Khafif adalah pembenaran
hati terhadap sesuatu yang telah dijelaskan oleh Al-Haqq tentang masalah
gaib.serta ditambah dengan penuturan Al-Wasathi,” ketika sejumlah ruh dan jasad
berdiri berjajar disisi Allah, keduanya nampak tidak dengan Dzatnya, demikian
pula halnya dengan getaran-getaran hati dan gerakan-gerakan organ tubuh yang
berdiri dengan Allah tanpa keberadaan Dzatnya, karena gerkan dan getaran hati
merupakan perpanjangan bagian dari jasad dan ruh.
d.
Rezeki
Sesungguhnya
rezeki yang diterima setiap hamba adalah mahluk Allah. Segala sesuatu dialam
ini, baik yang bersifat fisik atau non fisik, memiliki jasad atau tidak adalah
ciptaan Allah, tidak ada pencipta selain-Nya. Menurut Al-Wasathi, “terbagi
dalam berbagai bagian sifat-sifat yang diganjarkan. Maka, bagaimana
perolehannya tergantung dengan gerakan dan upaya yang panjang dan
sungguh-sungguh.
e.
Kufur
Suatu
saat Al-Wasathi ditanyai mengenai kufur pada Allah, ia menjawab bahwa kufur dan
iman, dunia dan akhirat adalah dari, menuju, dengan, dan bagi Allah. Dari Allah
segala permulaan dan susunan, kepadanya tempat kembali dan berakhir,
bersama-Nya sesuatu yang tetap dan lenyap, dan bagi-Nya semua kerajaan dan
ciptaan.
f.
‘Arasy
Hakikat
dari kedekatan, kata Al-kharraz adalah hilangnya rasa pada sesuatu dari hati
berganti ketundukan nurani kepada Allah.
g.
Dzat yang Al-Haqq
Beberapa
guru spiritual thariqah (guru sufi yang mengamalkan salah satu aliran thariqah)
mereka berbicara tentang hakikat tauhid, tauhid itu berkisar pada pengesaan
Allah dan sifat-sifat-Nya. “sesungguhnya Allah, Dzat yang maha suci adalah ada
(dengan sendirinya)”, kata mereka, Terdahulu, Satu, Kuasa, Maha Tahu, serta
masih banyak lagi yang disebutkan dalam Asmaul Husna.[2]
3.
Istilah tasawuf
Di dalam risalah Al-Qusairy banyak sekali istilah mengenai tasawuf,
yang dipakai secara khusus, pemakainya memiliki cara tersendiri dan terpisah
dari lainya. Istilah ini dipakai disesuaikan permasalahan yang meraka hadapi
dan ditujukan untuk menyikap arti permasalahan bagi kepentingan mereka. Istilah
itu diantaranya:
a.
Waktu
Yaitu
kejadian atau peristiwa yang akan terjadi, kejadiannya selalu digantungkan pada
yang sedang terjadi, peristiwa yang terjadi merupakan waktu (sambungan) bagi
peristiwa yang akan terjadi.
b.
Al-Maqam
Menurut
penafsiran dunia sufistik yang berarti suatu nilai atau etika yang akan
diperjuangkan dan diwujudkan oleh seorang salik
c.
Al-Hal
Menurut
kaum sufi diartikan makna nilai atau rasa yang hadir secara otomatis, tanpa
unsur kesengajaan, upaya, latihan, dan pemaksaan, seperti rasa gembira, sedih,
lapang, sempit, rindu, dan lainnya.
d.
Fana’ dan Baqa’
Istilah
Fana’ oleh kaum sufi digunakan untuk menunjukkan keguguran sifat tercela,
sedangkan Baqa’ untuk menandakan ketampakan sifat yang terpuji.
4.
Maqam atau
tingkatan jalan pendakian para salik
Setelah
menjelaskan beberapa ungkapan,Imam Qusyairi melanjutkan dengan menjelaskan
bab-bab seperti bab taubat, bab mujahadah,bab zuhud,bab takwa dan lainnya.
a.
Tobat
adalah awal tempat pendakian orang-orang yang mendaki dan maqam pertam
bagi sufi.
b.
Mujahadah menurut Hasan al Qazzaz dibangun atas
tiga hal yaitu: hendaknya tidak makan kecuali benar- benar butuh (lapar),
tidak akan tidur kecuali sangat ngantuk, dan tidak bicara kecuali
sungguh-sungguh terdesak.
c.
Zuhud
menurut As Sirri Allah SWT, orang zuhud tidak akan bangga dengan kenikmatan
dunia dan akan mengeluh karena kehilangan dunia.
d.
Takwa
dalam surat Ali Imran: 102 yang artinya bertakwalah kepada Allah SWT,
dengan takwa yang sebenarnya. Dapat diartikan bahwa kita mentaati aturan-Nya
dan kita harus mensyukuri nikmat dari
5.
Kondisi rohani
dan karamah
a.
Pengertian
karamah
Karamah merupakan indikasi kebenaran orang, indikasi ini selalu
nampak dalam hal ikwalnya. Barangsiapa tidak benar, maka realitas sesama
karamah tidak diperbolehkan. Argumentasi yang memberikan petunjuk pada Allah
SWT. Memberi definisi kepada kita, sehingga kita dapat membedakan antara orang
yang benar dalam hal ihwalnya dan orang yang gagal dalam metodelogi pengambilan
argumen merupakan hal yang bersifat asumtif. Hal ini tidak akan terwujud
kecuali dengan keistimewaan wali yang tidak mungkin diperoleh oleh orang yang
mengaku-aku. Konteks inilah yang disebut karomah.
b.
Urgenitas wali
dan kewalian
Wali
berarti orang yang selalu taat tanpa mencampur aduk dengan kemaksiatan, serta
seorang wali disebut juga kekasih tuhan yang selalu dijaga dan dipelihara
oleh-Nya agar tetap konsisten dan terus menerus taat kepada-Nya. Diantara
sifatnya:
ü Kema’shuman
ü Merasa takut apabila berbuat dosa
ü Melihat Allah SWT, dengan mata
6.
Tokoh-tokoh
sufi dan mutiara hikmahnya.
a.
Abdullah
Al-Abhari
Diantara mutiara nasihatnya:
ü Barangsiapa yang memberi seorang fakir, janganlah karena
kefakirannya. Jika karena begitu, berikanlah sebatas keperluannya.
ü Jika kamu memenuhi undangan saudara seagama, maka kurangilah
berbicara tentang dunia.
b.
Abu Hamzah
Al-Bazzar
Diantara
mutiara hikmahnya:
ü Barangsiapa yang mengetahui jalan kebenaran, maka ia akan mudah
menempuhnya. Tidak ada pemandu yang mengantarkan kepada Allah SWT, kecuali
dengan mengikuti perilaku, perbuatan, dan sabda-sabda Rasullulah SAW.
ü Barangsiapa yang mempunyai tiga hal ini, ia akan selamat dari
bencana-bencana yaitu: perut yang kosong disertai sikap batin yang qona’ah,
kemiskinan yang disertai sikap zuhud, dan ketabahan yang disertai kebadian
zikir.
c.
Syaqiq
Al-Balkhi
Diantara
mutiara hikmahnya:
ü Jika kamu ingin mengetahui kejujuran seseorang, lihatlah janji
Allah dan apa yang dijanjikan manusia, apakah ia lebih mantap hatinya kepada
janji Allah atau janji manusia.
ü Ketakwaan seseorang bisa dilihat dari tiga hal: dalam kesukaanya
menerima pemberian, keihlasannya, dan pembicaranya.
IV.
Kesimpulan
Nama Imam Al-Qusyairi
adalah Abdul Karim bin Hawazin bin Abdul Malik bin Thalhah bin Muhammad. Nama
panggilan beliau di antaranya adalah : An-Naisabur, Al-Qusyairi, Al-Iatiwai,
Asy- Syafi’i , dan lain-lain. Beliau telah menjadi yatim piatu ketika masih
kecil. Kemudian beliau dirawat oleh Abul Qasim Al-Alimani seorang sahabat karib
keluarga Qusyairi. Di sinilah beliau belajar bahasa dan sastra Arab. Beliau
ahli dalam bidang ilmu ushuluddin, fiqih, dan tasawuf.
Risalah berarti suatau
pembahasan, tema bahasan atau kajian. Keberadaannya mungkin sebagai jawaban
suatu pertanyaan, pemecahan suatu masalah, atau jalan keluar dialog kajian.
Ketahuilah, sesungguhnya ahli hakikat sebagian besar telah punah; tidak ada
yang tersisa di masa kita dari kelompok ini kecuali hanya bekas-bekasnya.
Dasar-dasar tauhid menurut
kaum sufi ada 7, yaitu : Ma’rifatullah, sifat-sifat Allah, Iman, kufur, rezeki,
arsy, dan Dzat Yang Al-Haqq.
Daftar
Pustaka
An-Naisaburi,
Abul Qasim Abdul Karim Hawazin Al Qusyairi. Risalah Qusyairiyah. Sumber
Kajian Ilmu Tasawuf. Jakarta: Pustaka Amani. 2007.
[1]
Abul Qasim Abdul Karim Hawazin Al Qusyairi An-Naisaburi, Risalah
Qusyairiyah. Sumber Kajian Ilmu Tasawuf. Jakarta: Pustaka Amani. 2007.
Hal:1-16
[2]
Abul Qasim Abdul Karim Hawazin Al Qusyairi An-Naisaburi, Risalah
Qusyairiyah. Sumber Kajian Ilmu Tasawuf. Jakarta: Pustaka Amani. 2007.
Hal: 39-48.

Komentar
Posting Komentar